Jelang World Water Day 2017

09 Maret 2017

Why wastewater?

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mencangkan peringatan Hari Air Se-Dunia (World Water Day, WWW) tahun 2017, yang jatuh pada tanggal 22 Maret. Peringatan  tahun  2017 merupakan peringatan ke-23, sejak dicanangkan tahun 1993 yang kemudian pertama kali dirayakan tahun 1994. Setiap tahun selalu ada tema khusus WWD, yang dibahas oleh tim yang terdiri praktisi, ahli dan berbagai latar belakang, yang berasal dari berbagai belahan dunia.  Tahun 2017, World Water Day mengambil tema Why Wastewater? (Ada apa dengan Air Limbah, dalam terjemahan bebasnya).

Panitia WWD, menyatakan bahwa secara global ditemukan bahwa kebanyakan limbah dari rumah tangga, limbah perkotaan, industri, pertanian masuk kembali ke alam tanpa melalui sebuah proses penjernihan atau penggunaan kembali (reused) dan mengakibatkan hilangnya nutrisi alam dan material yang dapat diolahkembali (recoverable material). Sehingga dengan mengangat isu ini, diharapkan tumbuh kesadaran baru terhadap penanganan air limbah, baik dari sumber pencemarnya (source), pemerintah maupun pengelola air limbah (operator).

Ada apa dengan Air Limbah (AADL) menjadi tagline yang menarik dalam WWD 2017 ini.  Selain soal meningkatnya volume air limbah, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana caranya agar air limbah berkurang (reduce) dan dapat digunakan kembali (reuse). WWD menyebutkan bahwa langkah-langkah kecil dapat dimulai dari rumah kita sendiri, misalnya dengan menggunakan air bekas cucian dapur (greywater) untuk menyiram tanaman di kebun. Pada tingkat kota, air limbah diolah dan dapat digunakan kembali untuk kawasan hijau. Pada kawasan industri air limbah dapat diolah dan disirkulasikan (recycled) untuk sistem pendingin pabrik dan untuk pertanian dapat digunakan sebagai pengairan irigasi. Sehingga dengan memaksimalkan sumber daya yang berguna ini, diharapkan terjadi siklus yang lebih baik untuk setiap kehidupan”.

Dalam hubungannya dengan pembangunan global, tema WWD ini, AADAL, ini akan membantu untuk mencapai target Sustainable Development Goal (SDG) yang ke-6, yaitu pada goal 6.3. yang menyatakan bahwa pada tahun 2030 “meningkatkan kualitas air dengan mengurangi polusi, menghilangkan pembuangan dan limbah berbahaya beracun  dan mengurangi separuh dari air limbah yang belum terolah serta meningkatkan sirkulasi dan penggunaan kembali air pengolahan luimbah secara aman”. Pencapaian target 6.3. juga memiliki kontribusi terhadap kesehatan dan kehidupan (goal 3), pengolahan air dan sanitasi yang aman (goal 6), energi yang bersih dan layak ( goal 7), pembangunan kota dan masyarakat yang berkelanjutan (goal 11),  kehidupan bawah laut (goal 14), kehidpan di darat (goal 15) dan lain sebagainya.

Pada konteks DKI, peringatan WWD dengan AADAL, akan menemukan benang merahnya. Hasil studi Bank Dunia, 2015, dimana dari penduduk Jakarta terdapat 90% yang menyatakan telah mengolah limbah domestiknya dan sisanya tidak mengolah (10%). Yang menyatakan mengolah tersebut, 5% dalam bentuk off-site (saluran air limbah) dan 85% dalam bentuk on-site (misalnya dengan septik tank). Dan dari on-site tersebut,  74,2% pengolahannya tidak aman dan hanya 10,8% yang aman. Sedangkan dari off-site (5%) dinyatakan aman hanya 3,2% sisanya tidak aman.  Hal ini memperlihatkan bahwa isu pengelolaan air limbah penting diperhatikan di Jakarta. Hal lain adalah adanya kebijakan Gubernur, yang berkeinginan adanya upaya-upaya untuk mengolah air limbah dan menggunakan kembali air hasil pengolahannya  untuk keperluan air menyiram tanaman, penambahan debit air sungai, sebagai sumber air baku dan sekaligus menjadi penataan perkotaan dengan sistem drainase yang aman, indah dan baik.

WWD  menyampaikan tiga isu penting yang perlu ditegaskan dalam HAD 2017 ini, yaitu:

1. Air Limbah dan Perkotaan

Pada tahun 2030, secara global kebutuhan  air akan tumbah sebesar 50% dari kondisi sekarang dan terutama di kawasan-kawasan perkotaan. Karena itu akan diperlukan upaya-upaya baru untuk menangani dan mengelola air limbah. Pengelolaan air limbah yang baik juga akan membantu penyelesaian berbagai  masalah, termasuk industri produksi makanan. Dinegara berkembang, khususnya pada area permukiman  orang miskin perkotaan, kebanyakan air limbah dialirkan langsung ke saluran  atau ke badan air, tanpa ada pengolahan tertentu. Buangan rumah tangga dan tinja, industri dan rumah sakit skala kota, penambangan kecil dan peralatan mesin, kerap membuang limbahnya yang bercampur dengan   zat  kimia beracun ke saluran pembuangan air limbah. Selain itu, pada kota dimana sistem air limbah telah ada, efisiensi pengolahan sangat rendah.  Pengolahan limbah yang sederhana dan konvensional yang tidak dapat mengolah zat polutan akan berdampak negatif terhadap manusia dan ekosistem.

2. Air Limbah dan Industri

Akibat desakan masyarakat dan tekananan lingkungan, pada tahun terakhir ini telah memaksa dunis industri untuk mengurangi produksi limbah dan sekaligus mengolahnya sebelum dibuang. Kini, air limbah harus dilihat sebagai potensi sumber daya baru dan digunakan, yang dapat memberikan nilai ekonomi dan keuntungan finansial.  Air limbah dapat menjadi entitas busines yang menguntungkan. Namun diperlukan kemauan keras dan insentif untuk menggunakan kembali hasil pengolahan air limbah , baik di tingkat rumah tangga maupun skala lokal dan hal itu akan menghemat pengeluaran. Pada dunia industri juga perlu didorong agar menggunakan olahan air limbah untuk keperluan tertentu, misalnya untuk air pendingin atau penghangat,  atau bisnis yang menggunakan  air hujan untuk kebutuhan toilet, irigasi dan cuci kendaraan.

3. Air Limbah dan Pertanian

Sebagai bagian untuk memenuhi kebutuhan, saat ini terjadi peningkatan penggunaan bahan kimia, pupuk dan pestisida pada dunia industri dan peternakan yang berdampak terhadap peningkatan pencemaran lingkungan. Di negara berkembang, meningkatnya pencemaran air tanah dan air permukaan dari pertanian semakin meningkat. Pada sisi lain, terjadi peningkatan upaya petani untuk mencari sumber air alternatif yaitu penggunaan air limbah, karena air limbah mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan adanya keterbasan sumber air. Jika hal ini diterapkan secara aman, air limbah akan menjadi sumber daya yang bernilai dari sisi air dan nutrisi, berkontribusi terhadap ketahanan air dan pangan.  Pengelolaan air limbah yang baik akan meningkatkan kualitas hidup pekerja, khususnya pada bidang pertanian, mengurangi resiko paparan zat patogen, selain itu dapat mencipatakan pekerjaan pada sektor yang secara langsung atau tidak langsung tergantung pada ketersediaan air atau lainnya. (DHS, diolah dari berbagai sumber).

 


Berita Terkait Layanan Air Minum

Malam Ini, Pasokan Air Palyja Kembali Normal secara Bertahap

Kompas.com - 14/07/2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah sempat terhenti akibat terputusnya aliran listrik, pasokan air bersih ... Baca Selengkapnya  

Gangguan Listrik Hambat Pasokan Air Palyja

Kompas.com - 13/07/2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasokan air bersih dari PT PAM Lyonnaise Jaya ( Palyja) mengalami gangguan ... Baca Selengkapnya  

Pipa Air Bocor Bikin Macet JORR, Ini Reaksi PAM Jaya

Viva.co.id Senin, 19 Juni 2017 Oleh : Lis Yuliawati, Foe Peace Simbolon
VIVA.co.id – Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat mengemukakan, perbaikan pipa bocor di Jalan ... Baca Selengkapnya  

Pipa Bocor, Air PAM Genangi Jalan Raya Bogor di Pasar Rebo

Kompas.com - 19/06/2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Pipa air PAM yang terpasang di sekitar Jalan Raya Bogor arah Bogor di Pasar ... Baca Selengkapnya  

PT Aetra Datangkan Mobil Tangki Air Bersih untuk Kebutuhan Warga

wartakota.tribunnews.com Senin, 19 Juni 2017
WARTA KOTA, CIJANTUNG -- Pagi tadi ruas Jalan Raya Bogor terendam air akibat pipa air bocor, ... Baca Selengkapnya